Kart's

Daily Notes

Cerpen Pertamaku di LMCR Rohto Mentholatum Golden Award

1 comment
Theme : Teen Short Story
Author : Kartini Fuji Astuti
Genre : Romantic, Friendship, Betrayal
Length : 1 Chapter 1 Story
Cast :
- Asti : Shy, Hypocrite
- Riani : Beautiful, Fussy, Cheers
Other Cast :
- Farlan : Ex-Boyfriends of Riani
Point of View : Me (Asti)
Disclaimer : Just to learn the art of creative writing. That’s dedicated to Cianjur Literary Community.. and you, my beloved readers..

Lupakan Pelangimu

Ini senja terasa dingin. Langit jingga memesona. Tapi sayangnya, buatku yang tak kemana-mana, senja semakin membosankan. Sejak hujan reda, tak kulihat lagi pelangi melengkung di luar jendela. Dan di atas lanskap kertas, terlukis paras kesunyian. Hanya kicau merpati dan tiktok jam yang terdengar bersahutan mengeja angin. Aku mendadak ngungun di tengah-tengah puisi yang kubangun sendiri. Sementara di sisi kanan meja belajar, mug berisi susu cokelat mengepul hangat, menjelma kekasih yang rindu mendekap.
Sendiri. Aku benci sendiri seperti ini. Iri pada puisi dan sunyi yang telah lama berkencan. Aku menggigil kedinginan. Tinggal aku seorang dan segelas susu cokelat di rumah. Tiada Ibu, Ayah justru menjadi lebih giat bekerja hingga berkeringat. Derum sepeda motor tak lama kemudian redam disusul irama ketukan halus langkah kaki. Bel berdering. Aku meloncat dari duduk. Angin mana yang mengantarkan ayahku pulang pada senja?
Kalau bukan ayahku, lalu siapa?
Seseorang yang telah kubuang jauh-jauh namanya kini berdiri dengan penampilan kasual—kaos oblong kedodoran dan terusan jeans. Bahunya bersayap kenangan. Tangannya memegang buket bunga kebahagiaan berdaun warna-warni. Dua batang cokelat mungkin tak akan meleleh di senja sedingin ini. Dia tahu aku suka cokelat. Disodorkannya satu padaku sambil memasang senyum terang ribuan watt, membuat hati seperti tertimpa beton berat. Serta merta gempa melanda seluruh dadaku. Kejutan atau kutukan, sama saja ternyata.
Ingin kutampik semua pemberiannya dengan nyalak. Tapi keadaan berkata lain sesaat setelah aku prihatin dengan kedua bola mata penuh harap itu. Hatiku berontak, mengelak kehendak lidah. “Makasih, ya! Tapi maaf aku nggak ngarepin kamu dateng.”
“Bohong banget.”
“Kenapa mesti bohong?”
“Karena kamu pengen ngebunuh aku dengan senjata kebohongan itu.”
“Jadi, terserah aku mau bohong atau nggak,” ujarku malas sambil mengibaskan sebelah tangan, berniat mengusirnya dari rumah ini. Pun dari hatiku sendiri. Akan kututup rapat-rapat pintu rumah. Pun pintu hati. Sekuat tenaga ia menahannya, tak peduli kalah cepat dengan lesatan anak kunci, tak hirau aku gusar setelahnya. Bersandar pada daun pintu sebentar, baru kusadari kalau tubuhku telah merosot ke lantai. Air mataku ikut merosot. Panggilan disertai gedoran dari luar sungguh sangat mengganggu.
“Asti!”
Apa lagi?
“Bentar aja. Tolong dengerin! Kita bisa mulai semuanya dari awal.”
Mengertilah, Sayang. Itu tidak mungkin. Aku sudah hampir melupakanmu.

***

Masih bersalut kaos olahraga, berdua, kita beranjak berjalan kaki menguliti tempias debu dari kemelut lalu lintas di jantung kota. Tegap tinggi rambu-rambu berkeriut hendak menisik terik dan berisik kemacetan. Setiap kali terdengar raung peluit polisi, membubung asap knalpot ke langit. Ah! Mematut-matut pemandangan siang ini seolah berlutut di atas bibirmu yang basah. Sebab dari bibirmu, berjuta cerita tumpah. Tak sanggup kubendung.
“Kamu beruntung dikasih indera pernafasan sama Tuhan, coba kalau nggak, kan mana bisa hidup,” terangku asal. Ceritamu menggantung sebentar selagi punggung telunjuk itu meraba-raba pucuk hidung yang kelihatannya tak begitu mancung. Aku tergelak. Kau merengut. Sekejapan mata kemudian, setelah menyumpahi polusi udara, kau menyambung cerita ke lain cerita. Dari manisnya cinta pertama, matematika, cita-cita, sabun pencuci muka, hingga rahasia memperbesar dada. Kedua sudut bibirmu seketika berbusa.
Barbara Salon telah tampak. Untuk pertama kalinya, aku tak percaya bisa benar-benar menginjakkan kaki ke sana, ke lantai marmer persegi milik salon terkemuka. Terlebih sepulang belajar gaya renang bersamamu. Kau selalu minta diantar ke tempat-tempat memukau kalau sedang patah hati. Kaurekatkan hatimu kembali dengan jarum-jarum yang kaupungut dari lembaran majalah, bukan saja dari buku pelajaran sekolah. Jarum-jarum tipis itu mengurai tips bagaimana menarik perhatian mantan pacar dalam sebulan. Ialah dengan merubah total penampilan, menghadirkan kesempurnaan.
Riani, aku bisa saja mengantarmu sampai ke puncak Mount Everest kalau kau mau, tetapi untuk melanglang buana ke tempat begini ramai perlu berpikir dua belas kali. Dan kau tahu, tak percuma aku berpikir sebelumnya. Alangkah mengasyikan bisa menganalisa rupa-rupa model rambut panjang yang dipajang di rak kaca. Lucu sekali. Teringat aku pada rambutku sendiri yang berantakan tak ubahnya mie instan. Nyatanya, selain perpustakaan, toko buku, dan kamar mandi, ada tempat lain yang bisa mengobati kesendirian hati!Sehabis perawatan kulit, di depan cermin oval kau berdiri anggun. Membiaskan pesona segar sambil tersipu. Jerawat berkarat itu lenyap, disapu oleh cairan kental mirip salep pereda gatal kepunyaan nenekku. Cermin mengakuimu gadis cantik. Semerbak parfum menyeruak terbit membikin siapa saja melayang, kepayang. Ada sekelebat kupu-kupu perak mengepak menerjang dari merah bibirmu yang tak pernah luntur. Terbang kian kemari.
Aku mengamatimu dari tepi ke tepi layaknya mesin cetak digital yang meriang kehabisan tinta. Bahwa aku kalah segalanya darimu, tak dapat kupingkiri. Diam-diam aku pun mengerang di antara gemilang cemas dan gemas. Tanpa topeng tata rias serta gaun modis, aku merasa gagal jadi gadis, terutama ketika sedang bersaing. Hei, lagipula siapa yang sedang menyaingi siapa! Kita telah berteman lama, sama-sama bukan pesaing. Dan justru perbedaanlah yang akan membuat kita selalu bersama. Selalu. Semoga.
“Lihat aja nanti, Farlan pasti nyesel deh udah mutusin aku!” Kau terkikik, geli. Berada dalam posisi penuh percaya diri.
Farlan. Tega-teganya dia melepasmu. Padahal dia dan kau kerap berjanji sehidup semati. Sulit kumengerti. Serumit itukah sesuatu yang kalian anggap cinta sejati?
Aku masih ingat suasana tempo hari, sejak perkenalan pada tanggal sebelas hingga ketahuan tengah bermesraan di ruang kelas. Aku masih ingat gesit tarian ibujarimu di tombol ponsel dan bagaimana ekspresi konyolmu setiap benda segenggaman tangan itu bergetar. Satu pesan dari nomor Farlan! Menunggu koridor sekolah berangsur senyap, kau mengejanya lamat-lamat. Sebaris kata di layar menjelma batu sandungan, membuatmu limbung. Putih geligimu memahat sesungging senyum. Wajahmu memerahmuda. Lalu, kau menceritakan kembali pesan itu berkali-kali padaku serupa membaca hafalan biologi.
Dan kupastikan aku hampir tenggelam dalam ceracaumu yang tak berkesudahan kali ini. Wajah ceriaku ditumbangkan kritikan. “Emang nyaman kalau lebih sering mendengar tanpa banyak bicara kayak kamu, As?” semburmu. Aku tertawa, menenggaknya. Belum sempat kusanggah, kau sudah bicara lagi, “Kalau dipikir-pikir, buatku kamu tuh kayak buku harian, tahu nggak?”
“Dan kamu penulisnya. Penulis yang galak,” aku menyela.
Kau lantas memukul-mukul bahuku sekilas. Tidak setuju dikatakan galak. Agak keberatan dikatakan penulis. Hidup untuk menulis kadangkala terdengar miris. Kau hanya berminat meminang rumus-rumus statistika. Kau pun pernah memintaku membilang berapa frekuensi Farlan datang ke hatimu. Kujawab sambil mengerling, “Sering.”
“Salah,” sergahmu sebelum kemudian bertutur pelan, “Dia dateng cuma sekali kok, soalnya susah pergi lagi sih.”
Mataku berkaca-kaca, takzim sekaligus kasihan. Tentu saja kau cerdas, Riani. Betapa cerdas. Tetapi bisa jadi lebih pemalas ketimbang beruang di kartun-kartun televisi kalau berbincang soal melupakan yang hilang.
Riani, temanku, di lantai dua sebuah mall, kau pergi kemana entah. Mataku terpicing menyisir sekeliling, mengira-ngira apakah tubuhmu yang ramping ditelan gemerincing pernak-pernik hiasan dinding, hak lancip pentopel, tumpukan kemeja batik berlabel diskon atau riuh ibu-ibu pelanggan. Gamang suaraku berhamburan memanggil-manggil namamu di setiap penjuru ruang. Melupakan yang hilang agaknya memang bukan perkara gampang.

***

Aku melihat bayang-bayang pelangi kembali melengkung di matamu, Riani, persis seperti jejak kaki setrika yang membekas di rok panjang abu-abuku. Lengkungan itu sempurna. Sungguh. Dan jujur, meski hanya berupa bayang-bayang, aku ingin mengguntingnya sepotong untuk kusimpan di saku. Tanpa sadar kau pun tengah mencari si pemilik bayangan, bukan? Adakah yang lebih indah dari pelangi?
“Dia kemana, ya?”
Jangan cemas. Barangkali, dia masih tertidur, membujur dan mendengkur di negeri kebahagiaan. Atau barangkali, dialah pelangi sesungguhnya. Yang bayangannya tak sengaja menghuni matamu. Pelangi yang paling pelangi. Kau selalu mengeluh setiap mendapati dia bersikap biasa saja di hadapanmu. Kau juga mengeluh setiap dia meniada tanpa pamit.
“Mungkin di lab. Kenapa emang?”
“Aku mau ngasih kado buat dia,” ungkapmu berseri-seri sambil menujukkan kotak ukuran mini yang dikemas dengan ukiran hati. Berseragam kertas beragam warna dan seuntai tali pita terjuntai di keempat sisinya.
Lalu, kaukeluarkan cermin mungil dari tas yang juga mungil untuk mengetahui sebaik apa posisi jepitan rambutmu. Dengan kilau kuku-kukumu, kau menetaskan noktah-noktah komedo di pucuk hidung yang kelihatannya masih tak begitu mancung. Lentik bulu matamu bersemburat saat kau bertanya-tanya, “Apa aku udah cantik?” Tulang leherku pun terasa patah karena terus-terusan mengangguk.
Belum sebelas menit yang lalu kau tampak begitu tak sabaran, sebelas menit kemudian kau sudah kembali dari laboratorium komputer—tempat yang kuperkirakan menyimpan pelangi. Kau terengah dengan wajah berlipat-lipat. “Kayaknya dia lagi sibuk,” gumammu lesu. Kau enggan mengganggunya.
Berusaha tegar, kau lalu mengajakku menjajari langkah menuju kantin.
“Duduk di sana sambil makan mie ayam bisa bikin kamu gemukan,” godamu.
“Bisa bikin muntaber kalau caranya salah,” cepat-cepat aku meralat.
Selera makanmu selalu meningkat drastis dan mengerikan kalau sedang galau. Sekepalan cabikan daging ayam. Sambal bersendok-sendok. Kerupuk sepenuh mangkuk. Kau tampak seperti kerasukan setan saja ketika sedang menyantap mereka.
“Belum saatnya kali,” lanjutmu datar. Aku tegetar. Sebelas rencana ampuh telah kaukerahkan penuh tekad. Sebelas kali pula kau lelah dan mengatakan hal yang sama. Padahal ini bukan tentang kau yang cantik atau tidak. Bukan tentang dia yang sibuk atau tidak. Juga bukan tentang sudah atau belum saatnya. Sama sekali bukan. Melainkan tentang mempersenjatai rupa, waktu, dan peluang yang kaumiliki. Tiada lain untuk mengendalikan diri, merelakan kepergian pelangi yang paling pelangi.
Suatu hari, langit mengelabu. Pada lengang ruang baca perpustakaan, aku baru menjelajahi dua halaman Kuda Terbang Mario Pinto ketika kau menghambur ke tubuhku. Kau terisak dengan ingus dan air mata yang bertubi-tubi tiba mengaliri pipi. Aku memelukmu spontan dan bertanya penuh kebingungan, ada apa. Terutama, ada apa dengan suaramu? Sayup-sayup kudengar kau mengigau di pundakku, “Farlan..”
Ya, ini pasti ulahnya. Aku mahir menjadi peramal, tentu saja. Telah kuramalkan kalau nama pria itu akan terlontar dari bibirmu saat ini juga, untuk kesekian kalinya. Menangislah, Riani. Dengan begitu, aku punya satu alasan untuk menghantam bajingan tengik yang kaumaksud itu nantinya.
“Asti, ternyata dia, ternyata..” Hanya geletar serak yang kudengar dari pangkal tenggorokanmu, tesendat-sendat, seperti takut menghadapi kenyataan. “Kamu tahu kenapa dia nggak peduli lagi sama aku?”
Aku menggeleng.
Pelukan kita lalu merenggang. Kau sesenggukan, membikin perih ulu hatiku. Dengan tanganku yang bengkok kuseka bengkak kedua matamu. Setahuku, dia telah melupakanmu, temanku. Kau hanya perlu melupakannya juga mulai detik ini. Tapi biarlah kukatakan begini, “Aku nggak tahu.”
“Karena dia punya gadis lain!”
Darahku berdesir. Getir.
“Benar apa katamu, As. Dia bukan pelangi punyaku.”
Bodoh kau, karena baru memikirkan dan membenarkannya sekarang. Dia memang bukan pelangi punyamu. Harus berapa kali kukatakan?
Kau semakin terguguk. Aku menyuruhmu tenang sambil mengusap pelan-pelan punggungmu yang rapuh, yang sedang menunggu waktu untuk rubuh. Aku mencoba menghiburmu dengan lawakan-lawakan jitu, tapi semua lawakan agaknya menjadi basi buatmu. Dari bibirmu yang kini membiru, kau bercerita dengan tak lancar. Tak seperti berselancar.
Malam itu, Farlan meneleponmu, mengajakmu untuk sekadar makan-makan di kafetaria langganan kita. Saking kegirangannya, kau lupa memasang jepitan rambut di kepala lalu terseok-seok mengenakan sepatu yang haknya pendek sebelah. Kau menjulurkan lidah setelah sebelumnya menyeruput segelas es lemon. Kau berkata dengan bloon, aku kepedasan. Tawanya membahana. Ia bilang, kau membawa sederetan tingkah laku lucu. Sambil mengambang di sawang, kau ikut tertawa. Kau tertawa sebelum benar-benar ditinggalkan dan dibiarkan ketakutan, sendirian.
Meski habis ceritamu, tak habis duka kaukuras. Kautatah geming pada segelintir bening sisa hidup. Kedua matamu bergemerutupan. Jauh di dalamnya, mengendap hitam pekat sesosok hantu yang memutar kilas balik masa lalu. Pada akhir tayangan, selengkung bayang-bayang pelangi terserap aura gaib. Lindap berkeping-keping.
Kau menjerit dalam hening.

***

“Itu buat cowok yang nggak punya hati!”
Farlan meringis, ngilu. Tamparanku tepat mengenai sasaran, mendarat di wajahnya dengan sadis. Giginya bergemelutukan. Rahangnya merah, tapi tak sampai mengeluarkan darah. Ketika marah begini, di luar dugaan, agaknya aku menjadi lebih bengis dari preman mana pun. Lebih ganas dari monster mana pun. Bahkan lebih nyinyir darimu.
Dalam mulutku penuh sesak bara dendam yang tak mengenal padam. Dalam keluasan alun-alun kota juga penuh sesak pedagang asongan serta lalu lalang orang-orang. Keramaian seperti sekarang memang tak pernah akrab denganku.
Karena merasa mendapat warisan keberanian dari kupu-kupu perak, aku memberanikan diri untuk memberitahunya bahwa ajakan makan malam itu sepenuhnya gagal dan malah membuat kau sengsara. Aku memberitahu segala hal yang ia belum ketahui, segala kata kasar yang pantas ia dengar. Lekuk murung senja menyaksikan. Di tengah hujatanku, tiba-tiba ia membungkam mulutku dengan mulutnya! Orang-orang tetap berlalu lalang. Aku terdiam, kaku. Membeku di tempat serupa mayat.
“Dan itu buat cewek yang mencuri hatiku.”
Mataku nyalang terhunus setelahnya. Nyawaku hinggap di sana-sini dan susah payah kurasukkan kembali segenap nyawaku itu untuk bersiap menamparnya sekali lagi. Hati-hatilah, tanganku sering memuting angin. Tetapi betapa aku sendiri heran, yang kulakukan untuknya sekarang hanyalah pura-pura berpaling dan berujar sendu, “Aku benci kamu.”
“Silakan! Terserah kamu mau bohong atau nggak.”
Ya, terserah.
“Dan terserah kamu kalau mau ngebunuh aku. Tapi sekeras-kerasnya tamparan itu, setajam-tajamnya kebohonganmu, nggak mempan buat bikin aku berhenti mencintaimu.”
Sungguh, lidah itu, dan kata-kata yang berlompatan darinya, semanis es krim rasa cokelat!
Karena itulah aku jatuh hati, Riani. Mendengarkan rayuannya seperti mencandu pohon cokelat, melupa kupu-kupu perak. Kurasa kau juga jatuh hati, ya, begitu menganggap yang demikian serupa renyah kerupuk di mangkuk mie ayam? Berarti, aku tak perlu merasa bersalah. Ini memang bukan salahku. Ini barangkali salah takdir yang tak sepihak denganmu. Lagipula, kau tahu betul, aku sudah sangat tersiksa mengabaikan angan hati demi kau, hanya demi kau. Maka sudah saatnya aku mengkhianati kau.
“Jadi gitu ya, Asti?”
Suaramu tercekat, meruntuhkan tulang-tulangku. Aku ambruk dalam hangat sebuah pelukan. Kutepis tangannya yang hendak menyentuh lembut helai-helai poniku. Di belakang lengkung pelangi ini, kau telah membekap mulut. Tak percaya! Sejurus berikutnya, terdengar benda jatuh ke jalanan aspal. Sejurus berikutnya, kau berlari sekencang-kencangnya seakan tak ada yang lebih kencang dari gerak jenjang kakimu. Berlari, terus berlari, tanpa henti. Diterbangkan kupu-kupu perak menjauhi letup sinar pelangi.
Bagaimana pun aku bahagia dalam ketiadaanmu. Bahagia. Hanya saja, saat pelangi dan kupu-kupumu bertukar tempat, di benak terdalam ini, mengeram ketakutanku. Mengeram semakin lama, semakin kelam: aku takut dibenci. Apakah kau akan tetap merawat buku harianmu ini?
Di kejauhan, tergolek benda yang tadi kaujatuhkan. Kuambil dan kuperiksa isinya: bayang-bayang pelangi mengerjap dari kotak ukuran mini yang dikemas dengan ukiran hati. Lihatlah, ia kusimpan di lembar terakhir. Kalau kau kehabisan akal untuk bersungguh-sungguh melupakannya, jangan sungkan datang padaku. Jangan meniru sikapku yang melulu berlagak tak butuh. Buka buku ini! Terbangkan kupu-kupumu di sini!
Riani, kau tahu, adakalanya telingaku retak. Tak kudengar lagi suara sekelebat kupu-kupu perak mengepak menerjang dari merah bibirmu yang telah luntur. Tapi degup jantungku justru merindu senja berubah warna. Berubah meriah menjadi merah termewah, jingga yang mengelana, kuning kamboja, biru, nila, ungu. Lalu, cokelat yang pekat.
Pelangi yang paling pelangi merapat ke arah pulang.

Cianjur, 2011
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. kunjungan siang..
    wah..ceritanya bagus banget..:D
    jangan lupa kunjungan balik ya..

    ReplyDelete

Pengen permen? Ngomen dulu, mamen!